Maven Smart System: Ketika AI Menentukan Target di Medan Perang
Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)
Teknologi kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar asisten chatbot. Di tangan militer Amerika Serikat, AI telah berevolusi menjadi sistem yang mampu mengidentifikasi ribuan target, menganalisis data perang secara real-time, dan mengubah cara manusia bertempur selamanya.
Sulut24.com, TEKNOLOGI - Bayangkan sebuah sistem komputer yang dalam satu jam mampu menganalisis citra satelit, menemukan lokasi peluncur roket musuh dan merekomendasikan jenis senjata yang paling tepat untuk menghancurkannya tanpa perlu istirahat, tanpa bias emosional, tanpa batas waktu. Itulah Maven Smart System (MSS), platform kecerdasan buatan milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang kini resmi menjadi standar militer global.
Bagi sebagian besar masyarakat, AI masih identik dengan aplikasi percakapan atau rekomendasi musik. Namun diam-diam, teknologi yang sama telah digunakan dalam operasi militer nyata di Ukraina, Irak, Suriah, hingga Laut Merah mengubah wajah peperangan modern secara fundamental.
Apa Itu Maven Smart System?
Maven Smart System adalah platform komando dan kendali (Command & Control) berbasis AI yang dikembangkan oleh Palantir Technologies untuk militer AS.
Sistem ini bekerja seperti 'otak digital' di pusat komando perang, ia menyerap data dari lebih dari 150 sumber berbeda secara bersamaan mulai dari citra satelit, rekaman video drone, sinyal radar, data inframerah, hingga informasi intelijen lalu memprosesnya menjadi gambar situasi medan perang yang bisa dibaca komandan dalam hitungan detik.
Yang membuat Maven berbeda dari sistem militer konvensional adalah kemampuan computer vision-nya.
Algoritma AI yang telah dilatih dengan jutaan gambar berlabel mampu secara otomatis mendeteksi dan mengklasifikasi objek di medan perang seperti kendaraan tempur, peluncur roket, kapal perang, bahkan pergerakan pasukan.
Hasilnya ditampilkan dalam satu layar terpadu kotak kuning untuk target potensial, kotak biru untuk posisi pasukan sendiri.
“MSS memungkinkan keterlibatan sensor ke penembak yang cepat melalui alur kerja yang sepenuhnya digital,” sebagaimana disebutkan dalam siaran pers resmi United States Marine Corps berjudul “Marine Corps partners with Chief Digital and Artificial Intelligence Office and Palantir to deliver Maven Smart System (MSS)” yang dipublikasikan pada 10 September 2025.
Seberapa Cepat? Angka Yang Mengejutkan
Untuk memahami betapa revolusionernya teknologi ini, bandingkan dua era yang berbeda. Pada masa Operasi Perang Irak (2003), diperlukan sekitar 2.000 personel militer yang bekerja dalam shift untuk menjalankan satu sel penargetan. Prosesnya bisa memakan waktu berjam-jam untuk satu target.
Dengan Maven Smart System, XVIII Airborne, Corps AS kini mampu mencapai output penargetan yang setara hanya dengan 20 orang. Lebih dari itu, integrasi AI dalam Maven telah meningkatkan kapasitas dari kurang dari 100 target per hari menjadi 1.000 target per hari dan setelah integrasi model bahasa besar (LLM), angka itu melompat menjadi 5.000 target per hari.
Sudah Digunakan Di Perang Nyata
Maven Smart System bukan lagi sekadar prototipe laboratorium, melainkan telah aktif digunakan dalam berbagai konflik bersenjata nyata di sejumlah wilayah dunia.
Pada konflik Ukraina tahun 2022, ketika Rusia melancarkan invasi, Amerika Serikat memanfaatkan Maven untuk melacak pergerakan dan lokasi peralatan militer Rusia, lalu meneruskan koordinat tersebut kepada pasukan Ukraina.
Selanjutnya pada 2024, sistem ini terlibat dalam lebih dari 85 serangan udara di Irak dan Suriah, dengan peran penting dalam mengidentifikasi serta memvalidasi target secara cepat dan akurat.
Di kawasan Yaman dan Laut Merah sepanjang 2024 hingga 2025, Maven digunakan untuk melacak peluncur roket milisi Houthi sekaligus memantau pergerakan kapal-kapal di jalur strategis tersebut.
Bahkan dalam operasi terbaru yang berkaitan dengan Iran pada 2026, Maven diklaim mampu memproses dan memvalidasi hingga 1.000 target hanya dalam 24 jam pertama operasi, menunjukkan kapasitasnya sebagai sistem kecerdasan buatan yang semakin dominan dalam strategi militer modern.
Yang penting untuk dipahami bahwa Maven tidak secara otomatis menembak atau menjatuhkan bom. Sistem ini hanya memberikan rekomendasi dan analisis. Keputusan final untuk melancarkan serangan tetap berada di tangan komandan manusia sesuai kebijakan resmi Pentagon yang mewajibkan 'tingkat penilaian manusia yang sesuai atas setiap penggunaan kekuatan.'
Kini Diadopsi Nato dan Seluruh Militer AS
Keberhasilan Maven di lapangan mendorong adopsi yang masif. Pada Agustus 2025, seluruh cabang militer AS termasuk U.S. Marine Corps telah memiliki akses penuh terhadap platform ini. Pada Maret 2025, NATO pun resmi mengakuisisi Maven Smart System untuk digunakan di markas besar komando strategis aliansi di Eropa.
“Maven Smart System memungkinkan aliansi memanfaatkan data kompleks dan mempercepat pengambilan keputusan,” ujar Markus Laubenthal, Chief of Staff di Supreme Headquarters Allied Powers Europe (SHAPE), dalam rilis resmi NATO berjudul “NATO acquires AI-enabled warfighting system” 25 Maret 2025.
Saat ini Maven memiliki lebih dari 20.000 pengguna aktif di seluruh komando tempur AS angka yang meningkat empat kali lipat hanya dalam dua tahun terakhir.
Perkembangan Maven Smart System adalah cermin nyata dari seberapa jauh teknologi AI telah bergerak melampaui imajinasi publik.
Ketika dunia masih berdebat soal AI yang menulis puisi atau membuat gambar, militer terdepan dunia telah menggunakannya untuk operasi yang menentukan hidup dan mati. (fn)


