Mencermati Matematika Sederhana Kesiapan APBN 2026 Terharap Tekanan Inflasi Minyak Dunia
Jerry F. G. Bambuta saat memberikan materi dihadapan siswa-siswi sekolah menengah pertama (Foto: dok pribadi/Jerry F. G. Bambuta)
Oleh:
Jerry F. G. Bambuta
Forum Literasi Masyarakat
Sulut24.com, OPINI - Beberapa hari yang lalu, saya dengan beberapa rekan ngopi di sebuah cafe, di kiri kanan saya cukup hangat membahas "emas hitam" yang harganya meroket pasca perang Iran/Amerika/Israel. Saya menyebutnya sebagai perang segitiga atau "triangle war" karena melibatkan tiga negara utama yang saya sebut tadi.
Triangle war ini membuat kilang minyak di Israel dan Iran luluh lantak. Di tambah lagi, Iran membalas dengan memblokade selat Hormuz. Selat Hormuz adalah selat strategis (choke point) antara Teluk Persia dan Oman.
Di mana di jalur ini di produksi dan di lalui oleh distribusi 20% minyak konsumsi global. Akibatnya, nadi energi global ini mengalami sumbatan karena konsekuensi "triangle war".
Karena kondisi di atas, harga minyak brent dan WTI (west texas intermediate) meroket pada angka $110 per barel (kenaikan 25%). Dari situs media resmi Vietnam (www.vietnam.vn) tanggal 11 Maret 2026 Jam 07.28 WITA, nilai harga minyak brent telah menurun pada angka $91 per barel.
Meski turun, harga minyak hari ini masih berada jauh di atas nilai asumsi APBN untuk nilai ICP (Indonesia crude price) pada angka $70 per barel. Ini mengancam APBN 2026 pada jurang defisit!
Baca Juga: YLKI Sulut Nilai Uji Materiil Anggaran MBG Wajar, Soroti Keamanan dan Keberlanjutan Program
Perlu kita ketahui, kenaikan $1 per barel akan menambah beban APBN sebesar Rp6,7 triliun. Nah, antara harga minyak brent hari ini sebesar Rp 91 per barel dan nilai ICP APBN 2026 sebesar $70 per barel, ada selisih kenaikan sebesar $21 per barel. Itu artinya, beban APBN akan meningkat drastis mencapai Rp140,7 triliun!, meroketnya harga minyak secara otomatis akan memicu inflasi global dengan efek domino pada inflasi nasional dan lokal!
Ironisnya lagi, jika tanpa impor, ketahahan cadangan minyak konsumsi Indonesia hanya bisa bertahan 20-21 hari (kurang dari sebulan). Ketahanan cadangan minyak ini masih jauh di bawah standard internasional IEA (Internatioal energy agency) yang mengharuskan pada kurun waktu 90 hari.
Total kebutuhan konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,63 juta barel per hari. Tapi kemampuan kilang minyak domestik baru sanggup memproduksi hanya sekitar 605.000 - 840.000 barel per hari.
Indonesia baru bisa memenuhi 37%-51% kebutuhan minyak domestiknya secara mandiri. Artinya, selisih kekurangan konsumsi minyak domestik harus di penuhi melalui impor.
Padahal, data potensi cadangan minyak Indonesia mencapai 2,41 milyard barel. Angka ini setara dengan dengan kebutuhan konsumsi domestik selama 4 tahun tanpa melakukan impor. Artinya, untuk bergerak ke arah swasembada energi domestik cukup potensial.
Baca Juga: Perang Rudal vs Perang Mulut
Indonesia perlu sadar bahwa swasembada energi di era konflik geopolitik sangat vital. Mengapa demikian?
Dalam papan catur geopolitik global saat ini, sektor energi bukan lagi sebatas "komoditi dagang" tapi telah menjadi "senjata ekonomi!" Sektor energi telah menjadi "detterent factor" atau faktor penggentar dalam arena tarung geopolitik global.
Selama bangsa ini masih di jerat oleh impor energi, maka kita hanya akan menjadi boneka asing. Selama negara dan para elitnya hanya sibuk bancakan korupsi dalam kue APBN, dan lalai memperkuat kedaulatan nasional, maka kita hanya akan jadi bangsa budak asing. Sebutan heroik "macan asia" tak lebih dari sekedar jargon kosong.
Entah sampai kapan negara besar ini akan jera dari konsekuensi kalah saing dari negara luar. Masalah kita bukan kekurangan orang cerdas, malah Indonesia adalah gudangnya orang cerdas.
Masalah utama kita adalah kekurangan orang cerdas yang jujur serta punya moral dan nyali!
Timur Tengah lagi ramai "perang rudal", kita malah sibuk "perang mulut" untuk unjuk gigi siapa paling benar. Arogansi membuat kita lupa bahwa polemik sering membuat yang menang jadi arang dan kalah jadi abu.
Konyolnya lagi, fakta dan kebenaran kerap di gunakan sebatas "framing" untuk menyerang ketimbang menjadi referensi koreksi diri. Tak heran jika ruang demokrasi selalu gaduh dan pengab karena debat kusir penuh sentimen dan mengaburkan argumen.
Kita harus legowo untuk mawas diri, bahwa fakta dan kebenaran lebih suka kita gunakan sebagai senjata bela diri untuk menyerang, ketimbang menjadi cermin terhadap diri sendiri lebih dulu.
Kita perlu sadar, seorang bijak bisa mengubah dunia dengan mengubah diri sendiri lebih dulu.
Editor: fn


