Empat Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz: Urat Nadi Digital Dunia yang Terancam di Zona Konflik
Ketegangan di Selat Hormuz Ancam Konektivitas Internet Ratusan Juta Pengguna di Kawasan Teluk, Asia Selatan, dan Eropa.
Sulut24.com, TEKNOLOGI - Di kedalaman hanya sekitar 60 meter di bawah perairan Selat Hormuz, empat kabel serat optik bawah laut bekerja tanpa henti sebagai tulang punggung konektivitas internet bagi ratusan juta pengguna dari kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Eropa.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut, para analis dan pelaku industri teknologi global mulai serius mempertimbangkan risiko terputusnya infrastruktur digital kritis itu.
Berdasarkan data TeleGeography lembaga riset infrastruktur telekomunikasi global yang secara rutin memperbarui peta kabel bawah laut dunia melalui platform Submarine Cable Map, terdapat empat kabel aktif yang melintasi Selat Hormuz, yaitu AAE-1, FALCON, Gulf Bridge International (GBICS/MENA), dan Tata TGN-Gulf.
Kabel-kabel ini terkonsentrasi di satu jalur sempit di perairan Oman, akibat persoalan perizinan jangka panjang dengan Iran, sehingga tidak ada diversifikasi rute yang memadai.
Profil Empat Kabel Stratgis
1. AAE-1 (Asia-Africa-Europe 1)
Menurut data resmi konsorsium AAE-1 yang dipublikasikan di aaeone.com dan dikonfirmasi oleh Submarine Networks, kabel ini membentang sepanjang 25.000 km dengan kapasitas desain lebih dari 100 Terabit per detik (ditingkatkan pada 2022 menggunakan teknologi Infinera ICE6 800G).
Kabel ini menghubungkan Hong Kong, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Oman, UAE, Qatar, Yaman, Djibouti, Arab Saudi, Mesir, Yunani, Italia dan Prancis. Kabel ini mulai beroperasi secara komersial pada Juni 2017.
Baca Juga: Dugaan Korupsi RTH KONI Manado Masuk Tahap Penghitungan Ahli, Rako: Sudah Mengarah ke Tersangka
Pada 2 Januari 2025, kabel AAE-1 mengalami gangguan di lepas pantai Doha, Qatar, yang mengakibatkan degradasi kapasitas jaringan signifikan di Pakistan negara yang sangat bergantung pada AAE-1 untuk bandwidth internasionalnya. Insiden ini dicatat oleh Submarine Networks dan Wikipedia sebagai salah satu contoh nyata betapa rentannya infrastruktur ini.
2. FALCON (FLAG Alcatel-Lucent Optical Network)
Berdasarkan data Submarine Networks dan Wikipedia, kabel FALCON membentang sepanjang 11.859 km dengan kapasitas desain awal 2,56 Terabit per detik, dan mulai beroperasi pada September 2006. Kabel ini menghubungkan India, Sri Lanka, Maladewa, Oman, Kuwait, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Irak, Yaman, Sudan dan Mesir.
Yang menarik, FALCON juga memiliki titik pendaratan di Iran, yaitu di Bandar Abbas dan Chabahar, melalui operatornya Telecommunication Infrastructure Company of I.R. Iran (TIC).
Kabel ini tercatat pernah mengalami gangguan serius pada 9 Januari 2020, koneksi FALCON ke Yaman terputus, menyebabkan penurunan kapasitas internet di Yaman sebesar 80%, serta memberikan dampak besar di Kuwait, Arab Saudi, Sudan, dan Ethiopia.
3. Gulf Bridge International (GBICS / MENA)
Menurut data Wikipedia dan daftar kabel internasional, GBI menghubungkan seluruh negara anggota GCC Bahrain, Iran, Irak, Arab Saudi, Kuwait, Oman, Qatar dan UAE satu sama lain, sekaligus memberikan konektivitas ke Eropa, Afrika dan Asia. Sistem ini dirancang dengan arsitektur self-healing ring untuk ketahanan jaringan.
4. Tata TGN-Gulf
Berdasarkan siaran pers resmi Tata Communications 22 Maret 2012 dan data Submarine Networks, TGN-Gulf adalah kabel sepanjang 4.031 km yang menghubungkan Oman, UAE, Qatar, Bahrain dan Arab Saudi. Kabel ini terhubung ke percabangan TGN-EA di dekat Oman, membentuk koneksi lanjutan ke Mumbai, India dan selanjutnya ke Eropa.
Kabel ini dioperasikan oleh konsorsium yang dipimpin Tata Communications, dengan mitra operasional termasuk Ooredoo Oman, Etisalat UAE, Ooredoo Qatar, Bahrain Internet Exchange dan Mobily Arab Saudi.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Kritis?
Menurut Meta Engineering Blog Februari 2025, kabel bawah laut bertanggung jawab atas lebih dari 95 persen lalu lintas data antarkontinental di seluruh dunia. Dengan posisi keempat kabel di atas yang semuanya melintas di satu titik sempit Selat Hormuz, gangguan pada jalur ini berpotensi menimbulkan dampak yang sangat luas.
Baca Juga: YLKI Sulut Nilai Uji Materiil Anggaran MBG Wajar, Soroti Keamanan dan Keberlanjutan Program
Kedalaman Selat Hormuz yang hanya sekitar 60 meter di titik-titik tertentu membuat kabel-kabel tersebut relatif mudah dijangkau dan rentan terhadap gangguan fisik, baik akibat aktivitas kapal maupun tindakan yang disengaja.
Dampak Jika Kabel Terputus
Negara-negara Teluk dan Irak akan menjadi pihak yang paling cepat dan paling parah terdampak. Qatar, Kuwait, Bahrain dan Irak bergantung langsung pada kabel-kabel ini untuk hampir seluruh konektivitas internasionalnya. Dalam kondisi konflik aktif, kapal reparasi kabel tidak akan dapat beroperasi dengan aman di kawasan tersebut.
India akan mengalami perlambatan koneksi yang signifikan. Negara dengan lebih dari 750 juta pengguna internet ini sangat mengandalkan jalur Hormuz untuk koneksi ke kawasan Teluk, Afrika dan sebagian Eropa. Sektor keuangan, layanan call center, perbankan digital dan perdagangan elektronik berpotensi terganggu parah.
Infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan teknologi global seperti Amazon, Microsoft dan Google yang telah dibangun dengan investasi miliaran dolar di kawasan Teluk juga akan terdampak serius, karena konektivitas latensi rendah menjadi syarat mutlak operasional sistem AI dan komputasi awan skala besar.
Pasar keuangan dan perdagangan energi turut berisiko. Sistem perbankan, bursa saham dan transaksi komoditas energi global termasuk perdagangan minyak mentah yang sebagian besar mengalir dari kawasan Teluk bergantung pada jaringan data latensi rendah yang hanya bisa dipenuhi kabel serat optik.
Waktu pemulihan yang sangat lama menjadi ancaman nyata. Insiden Laut Merah pada Februari 2024 memberikan gambaran yang jelas dimana tiga kabel termasuk AAE-1 rusak akibat insiden di kawasan konflik.
Menurut laporan Cloudflare Radar dan Submarine Networks, proses perbaikan memerlukan waktu berbulan-bulan karena operasi kapal reparasi tidak dapat dilakukan di tengah kondisi keamanan yang tidak stabil.
Respon Global: Mencari Rute Alternatif
Kesadaran atas kerentanan ini telah mendorong berbagai inisiatif strategis. Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab dikabarkan tengah membiayai sejumlah proyek koridor serat optik darat untuk mengurangi ketergantungan pada jalur kabel bawah laut yang melintas di zona rawan konflik.
Langkah paling ambisius datang dari Meta. Pada 14 Februari 2025, perusahaan induk Facebook itu secara resmi mengumumkan Project Waterworth sebuah proyek kabel bawah laut sepanjang lebih dari 50.000 km yang akan menjadi kabel bawah laut terpanjang di dunia.
Menurut pengumuman resmi di Engineering at Meta, proyek ini dirancang untuk menghubungkan Amerika Serikat, India, Brasil dan Afrika Selatan menggunakan teknologi 24 pasang serat optik dua kali lipat kapasitas standar kabel baru pada umumnya.
Proyek ini secara eksplisit menghindari kawasan Timur Tengah, dan oleh Meta dideskripsikan sebagai investasi bernilai miliaran dolar yang akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan.
Menurut Oxford Internet Institute, Universitas Oxford, rute Waterworth yang melewati belahan bumi selatan mencerminkan pertimbangan geopolitik yang cermat menghindari chokepoint yang rentan sekaligus memperkuat konektivitas antara kawasan Amerika Latin, Afrika, dan Asia Selatan secara langsung. (fn)


