Iran Ancam Tutup Jalur Minyak Bab el-Mandeb, Dunia Waspada Krisis Energi Baru - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Iran Ancam Tutup Jalur Minyak Bab el-Mandeb, Dunia Waspada Krisis Energi Baru

Ilustrasi peta jalur distribusi minyak global melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, dua chokepoint strategis yang menjadi penghubung utama pasokan energi dunia. Ancaman gangguan di kedua jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global. (Foto: AI-generated image/Sulut24.com)

Selat strategis penghubung Asia–Eropa terancam, harga minyak global berpotensi melonjak.

Sulut24.com, INTERNASIONAL - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengancam akan menutup jalur pelayaran strategis Bab el-Mandeb, salah satu rute utama distribusi minyak dunia yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.

“Jika wilayah dan kepentingan strategis Iran diserang, kami tidak akan membatasi respons hanya pada satu kawasan. Kami siap membuka front baru untuk melindungi kedaulatan negara,” demikian pernyataan sumber militer Islamic Revolutionary Guard Corps, yang dikutip dari media pemerintah Iran, Tasnim News Agency.

Ancaman ini menambah kekhawatiran global, mengingat sebelumnya Iran juga menyoroti kemungkinan gangguan di Selat Hormuz jalur vital lain bagi pasokan energi dunia.

Menurut laporan Bloomberg, pejabat Amerika Serikat telah memperingatkan bahwa risiko terhadap jalur Bab el-Mandeb meningkat signifikan, terutama jika konflik Iran dengan Barat semakin meluas.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa kelompok Houthi di Yamanyang didukung Iran menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam konflik yang lebih luas, termasuk menyerang kapal-kapal di Laut Merah.

Latar Belakang Ancaman Iran

Ancaman Iran terhadap Bab el-Mandeb tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh eskalasi konflik militer yang lebih luas di Timur Tengah, khususnya meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa ancaman tersebut merupakan respons Iran terhadap tekanan militer yang meningkat, termasuk potensi serangan terhadap fasilitas vital seperti Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak negara tersebut.

Baca Juga: Maven Smart System: Ketika AI Menentukan Target di Medan Perang

Dalam konteks ini, Iran berupaya memperluas medan tekanan dengan tidak hanya mengandalkan Selat Hormuz, tetapi juga membuka opsi gangguan di Bab el-Mandeb sebagai jalur strategis kedua.

Selain itu, faktor penting lainnya adalah potensi keterlibatan kelompok Houthi di Yaman. Menurut laporan Reuters, kelompok tersebut menyatakan siap untuk ikut terlibat dalam konflik jika situasi semakin memanas, yang dapat berdampak langsung pada keamanan pelayaran di Laut Merah.

Para analis menilai, strategi ini mencerminkan upaya Iran untuk meningkatkan tekanan geopolitik terhadap Barat dengan memanfaatkan jalur sempit (chokepoint) global sebagai alat tawar. Dengan mengancam dua jalur utama sekaligus Hormuz dan Bab el-Mandeb Iran berpotensi menciptakan gangguan besar terhadap distribusi energi dunia.

Jalur Vital Minyak Dunia

Bab el-Mandeb merupakan salah satu “chokepoint” paling penting dalam perdagangan energi global. Selat ini menjadi penghubung utama antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Data berbagai lembaga energi menunjukkan bahwa sekitar 6 hingga 7 juta barel minyak per hari melewati jalur ini, atau sekitar 10–12 persen perdagangan minyak global.

Baca Juga: Empat Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz: Urat Nadi Digital Dunia yang Terancam di Zona Konflik

Gangguan di wilayah ini berpotensi memaksa kapal tanker memutar jauh melewati Tanjung Harapan di Afrika, yang akan meningkatkan biaya logistik dan memperlambat distribusi energi.

Risiko Nyata Bagi Pasar Energi

Pengamat energi global dari International Energy Agency menilai ancaman ini tidak bisa dianggap remeh.

“Bab el-Mandeb merupakan jalur kritis dalam perdagangan energi global. Gangguan signifikan di wilayah ini akan berdampak langsung pada harga minyak dan stabilitas pasokan,” jelas analis dalam laporan Oil Market Report edisi Maret 2026 yang diterbitkan oleh International Energy Agency.

Sementara itu, analis geopolitik Timur Tengah dari Al-Monitor menilai Iran sedang memainkan strategi tekanan berlapis.

“Iran tidak hanya fokus pada Selat Hormuz, tetapi juga membuka kemungkinan tekanan di Bab el-Mandeb. Ini adalah strategi untuk memperluas dampak geopolitik tanpa harus terlibat perang langsung,” tulis analis tersebut.

Peran Houthi dan Ancaman Nyata di Laut Merah

Kelompok Houthi di Yaman menjadi faktor kunci dalam meningkatnya risiko di kawasan ini. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut telah melakukan serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah.

Menurut laporan Reuters, eskalasi serangan Houthi telah memaksa sejumlah perusahaan pelayaran internasional menghindari jalur tersebut.

Baca Juga: Mencermati Matematika Sederhana Kesiapan APBN 2026 Terharap Tekanan Inflasi Minyak Dunia

Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa ancaman Iran bukan sekadar retorika, melainkan dapat diwujudkan melalui aktor proxy di kawasan.

Dampak Global hingga Indonesia

Jika jalur Bab el-Mandeb benar-benar terganggu, dampaknya akan meluas secara global. Harga minyak dunia berpotensi melonjak, biaya logistik internasional meningkat dan rantai pasok global terganggu. 

Bagi Indonesia, kondisi ini dapat berdampak pada kenaikan harga bahan bakar impor serta tekanan inflasi domestik. (fn)