Analis Pasar Modal Bongkar Motif Trump di Balik Lonjakan Harga Minyak
Pengamat ekonomi Yanuar Rizky ungkap bahwa agenda Trump menaikkan harga minyak sudah dirancang sejak konvensi Partai Republik 2013 demi kepentingan donatur industri migas.
Sulut24.com, EKONOMI - Pengamat ekonomi dan pasar modal Yanuar Rizky menganalisis bahwa kebijakan energi Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat ini merupakan kelanjutan agenda politik yang telah dibangun sejak 2013, ketika Trump pertama kali tampil di konvensi Partai Republik dan mulai merangkul donatur dari industri minyak dan gas.
Trump dan Industri Migas: Hubungan yang Dimulai Sejak 2013
Analisis tersebut disampaikan Yanuar Rizky dalam podcast Bambang Widjojanto yang ditayangkan Sabtu (4/4/2026). Menurut Yanuar, sikap Trump terhadap harga minyak bukan kebijakan baru. Ini adalah peta pikiran yang sudah terbentuk lebih dari satu dekade lalu.
Yanuar menyebut bahwa sejak awal kemunculannya di konvensi Partai Republik 2013, Trump secara terbuka mengkritik politik inflasi rendah era Obama. Trump menilai kebijakan itu melemahkan Amerika Serikat, bukan memperkuatnya.
"Politik inflasi rendah yang diciptakan oleh Obama dan Gubernur The Fed saat itu membuat Amerika menjadi negara lemah bukan menjadi negara kuat seperti dulu," ujar Yanuar Rizky, mengutip pandangan Trump.
Baca Juga: Dua Gempa, Dua Kali Roboh, Satu Korban Jiwa, Rako Desak Penetapan Tersangka Korupsi RTH KONI Manado
Yanuar menjelaskan bahwa ukuran kekuatan ekonomi versi Trump berpijak pada data historis neraca migas. Dalam sejarah Amerika Serikat, defisit neraca migas adalah anomali. Trump menjadikan ini sebagai argumen utama di hadapan para donatur dari sektor energi fosil.
Menurut Yanuar, kebijakan Obama memberi insentif besar pada shale gas (gas serpih). Langkah ini menekan harga energi fosil secara keseluruhan. Akibatnya, perusahaan minyak dan gas domestik Amerika kesulitan meraih keuntungan bahkan merugi karena harga produksi lebih tinggi dari harga pasar.
"Amerika Serikat ingin mengatasi krisis 2008, dia dalam politik inflasi rendah, harga minyak diturunkan ke bawah, itu mengakibatkan perusahaan migas di Amerika Serikat, jika melakukan produksi tidak mendapatkan keuntungan tetapi menjadi negatif," jelas Yanuar.
Kritik Trump atas Green Energy: Bukan Soal Iklim, tapi Neraca Dagang
Yanuar juga menyoroti sikap Trump terhadap energi hijau (green energy). Trump bukan sekadar skeptis terhadap perubahan iklim. Menurut analisis Yanuar, penolakan Trump terhadap green energy punya akar ekonomi-politik yang jelas.
Industri energi alternatif dinilai Trump sebagai faktor yang memperlemah daya saing sektor migas Amerika. Ini sekaligus merugikan basis donatur politiknya dari industri tersebut.
"Trump dari awal sudah mengkritik kebijakan energi alternatif, termasuk terhadap green energy karena menurutnya itu yang membuat Amerika lemah yaitu defisit neraca migas," katanya.
Baca Juga : Ada yang Bilang RI Krisis 2-3 Bulan Lagi, Ini Respons Tegas Menkeu
Yanuar menyimpulkan bahwa dinamika harga minyak saat ini tidak bisa dilepaskan dari peta kepentingan politik Trump bersama para donaturnya di industri migas.
"Kalau sekarang Trump bermain dengan isu yang tujuannya menaikkan harga minyak, menurut saya itu memang peta pikiran dia dengan para donatur politiknya di industri migas," tandas Yanuar. (fn)


