Ada yang Bilang RI Krisis 2-3 Bulan Lagi, Ini Respons Tegas Menkeu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan sambutan (Foto: ist)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pastikan APBN tetap aman di tengah gejolak global dan tegaskan tidak ada krisis maupun resesi ke depan.
Sulut24.com, EKONOMI - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN Indonesia tetap aman meski harga minyak dunia bergejolak, bahkan telah dihitung tahan hingga level $100 per barel. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara pelantikan pejabat eselon I Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat (27/3/2026), yang ditayangkan secara langsung di kanal Youtube Kementrian Keuangan RI.
APBN Dihitung Tahan hingga Harga Minyak $100 Per Barel
Ketidakstabilan global menjadi latar belakang pernyataan Menteri Keuangan dalam acara pelantikan pejabat pimpinan tinggi madya tersebut. Ia menyebut geopolitik yang bergerak dinamis, harga komoditas yang fluktuatif, serta kenaikan harga BBM di sejumlah negara tetangga sebagai tantangan nyata.
Namun demikian, pemerintah mengklaim telah mengantisipasi skenario terburuk. Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya sempat dipanggil ke Kertanegara untuk memberikan laporan kepada Presiden terkait ketahanan fiskal.
"Pada waktu BBM naik ke level yang tinggi itu, saya diundang ke Kertanegara, ditanya oleh Presiden terkait APBN, saya jawab, aman Pak, sudah kita hitung sampai $100 aman semua," ujar Purbaya.
Ia menjelaskan bahwa ketahanan tersebut bukan sekadar estimasi, melainkan hasil perhitungan kuantitatif dan terukur yang telah dijalankan oleh tim Kementerian Keuangan.
"Negara tetangga kita harga BBM sudah naikt tidak kira-kira kan, disini kita bisa menjaga harga BBM di level yang sekarang tanpa membahayakan APBN. Jadi tim kita jago dibanding negara-negara tetangga kita," jelas Purbaya.
Disiplin Fiskal Jadi Pegangan, Defisit Dijaga di Bawah 3%
Purbaya menegaskan bahwa prinsip disiplin fiskal dan kredibilitas APBN menjadi prioritas utama yang tidak dapat dikompromikan. Defisit anggaran, menurutnya, terus dijaga di bawah ambang batas 3% dari PDB.
"Kita pegang prinsip disiplin fiskal, kredibilitas APBN, itu yang kita pegang mati-matian selama ini. Defisit terus kita jaga di bawah 3%," tegasnya.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Kementerian Keuangan tidak hanya mengandalkan instrumen fiskal. Purbaya menyebut peran PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai bagian dari strategi pembiayaan yang lebih luas.
Harga BBM Stabil, Popularitas Pemerintah Disebut Meningkat
Menkeu juga mengaitkan kebijakan menahan kenaikan harga BBM dengan dampak positif terhadap kepercayaan publik. Kelebihan beban akibat kenaikan harga minyak global, menurutnya, diserap oleh pemerintah agar harga di dalam negeri tetap terjaga.
"Ketika harga minyak naik, kita serap di sini, gara-gara itu BBM tidak naik. Sekarang popularitas pemerintah naik, popularitas Presiden utamanya, itu akan menambah komponen stabilitas di ekonomi kita," kata Purbaya.
Ia dengan tegas membantah spekulasi yang beredar soal potensi krisis ekonomi dalam waktu dekat.
"Kalau orang bilang kita mau krisis dua tiga bulan lagi itu tidak benar, karena semua sudah kita hitung di Kementerian Keuangan," ujarnya.
Target Pertumbuhan Ekonomi 8% dalam Tiga Tahun
Ke depan, Purbaya menyatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Ia optimistis target tersebut dapat tercapai dalam jangka menengah.
Baca Juga: Gelombang Protes Anti-Perang dan Anti-Trump Memuncak di AS, Trump Tower Jadi Titik Simbolik
"Kita sudah selamat sebelumnya, tidak ada krisis tidak ada resesi. Ke depan tugas kita menciptakan suasana supaya ekonomi tumbuh cepat ke arah 8%, tiga tahun ke depan sepertinya bisa terlihat," pungkasnya. (fn)

