Di Balik Ancaman Selat Hormuz: Langkah Diam-Diam Prabowo Amankan Minyak RI
Ilustrasi jalur impor minyak mentah Indonesia dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Afrika, dan Timur Tengah. Pemerintah telah mengalihkan pasokan crude dari kawasan Hormuz ke negara alternatif atas perintah Presiden Prabowo Subianto. (Sulut24.com/Ilustrasi)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pastikan pasokan BBM nasional aman meski Selat Hormuz ditutup, sebab impor crude dari Timur Tengah sudah dialihkan ke negara lain.
Sulut24.com, EKONOMI - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia telah mengalihkan impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara lain, menyusul perintah Presiden Prabowo Subianto guna mengantisipasi risiko penutupan Selat Hormuz.
Bahlil menyampaikan hal tersebut dalam podcast di kanal YouTube resmi Kementerian ESDM pada 11 Maret 2026. Ia memaparkan kondisi terkini ketahanan energi nasional secara rinci.
Produksi Dalam Negeri Masih Jauh dari Kebutuhan
Produksi minyak Indonesia saat ini berada di angka 605 ribu barel per hari. Sementara konsumsi harian nasional mencapai 1,6 juta barel, sehingga negara masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.
Untuk kebutuhan solar, total konsumsi nasional mencapai 39 juta kiloliter per tahun. Bahlil menegaskan Indonesia sudah tidak lagi mengimpor solar berkat program biodiesel B40 yang kini berjalan, dan berpotensi ditingkatkan menjadi B50.
Bensin Masih Bergantung Impor, RDMP Balikpapan Jadi Solusi Parsial
Kebutuhan bensin nasional tercatat sebesar 40 juta kiloliter per tahun. Sebelum beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, kapasitas produksi dalam negeri hanya 14,5 juta kiloliter.
Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, produksi bertambah 5,5 juta kiloliter sehingga total menjadi 20 juta kiloliter. Indonesia masih mengimpor 20 juta kiloliter produk bensin untuk menutup selisih kebutuhan tersebut.
Bahlil menekankan bahwa impor terbesar Indonesia bukan dalam bentuk produk BBM jadi, melainkan minyak mentah atau crude oil. Crude tersebut kemudian diolah di kilang-kilang dalam negeri.
Dari Mana Saja Indonesia Impor Crude?
Indonesia mengimpor minyak mentah dari berbagai negara, antara lain Angola, Amerika Serikat, Brasil, Australia, serta sejumlah negara di Afrika dan Timur Tengah. Porsi impor dari kawasan Timur Tengah berkisar antara 20–25 persen dari total kebutuhan nasional.
Baca Juga: Gelombang Protes Anti-Perang dan Anti-Trump Memuncak di AS, Trump Tower Jadi Titik Simbolik
"Jadi kita tidak impor minyak jadi dari timur tengah, yang kita impor adalah minyak mentah, nanti diolah di Indonesia baru kemudian itu yang kita distribusi ke rakyat," kata Bahlil Lahadalia.
Antisipasi Penutupan Selat Hormuz Sudah Dilakukan Sejak Awal
Bahlil menjelaskan, potensi penutupan Selat Hormuz akan berdampak pada sekitar 20 persen pasokan crude nasional. Namun, atas perintah Presiden Prabowo, pemerintah telah lebih awal menjajaki pengalihan order ke negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Angola.
Sebagian negara Afrika bahkan memiliki aset Pertamina, sehingga pengalihan pasokan dapat dilakukan lebih cepat. Jika konflik berlangsung panjang, Indonesia sudah memiliki kontrak jangka panjang dengan negara-negara di luar Timur Tengah.
Amerika Serikat dipilih sebagai mitra strategis karena memiliki volume pasokan minyak yang besar. Meski jarak pengiriman lebih jauh, Bahlil menyebut pemerintah telah mengatur skema logistik jangka panjang sejak awal.
Preseden LPG: 70 Persen Kini dari Amerika Serikat
Keberhasilan diversifikasi serupa sudah terbukti pada impor LPG. Indonesia berhasil mengalihkan mayoritas impor LPG dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, dan saat ini 70 persen impor LPG nasional berasal dari negara tersebut.
Bahlil menegaskan pemerintah terus aktif mencari akses pasokan alternatif.
"Jadi tidak perlu ada rasa cemas, pemerintah tidak tidur, mencari jalan terus mencari akses terus," tandasnya. (fn)


