Eks Dubes RI: Trump Pemimpin Paling Berbahaya, RI Harus Kurangi Pendekatan - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Eks Dubes RI: Trump Pemimpin Paling Berbahaya, RI Harus Kurangi Pendekatan

Tangkapan layar saat Dino Patti Djalal berbincang bersama Gita Wirjawan dalam sebuah podcast yang ditayankan pada kanal YouTube Gita Wirjawan (Foto: ist)

Mantan Dubes RI untuk AS, Dino Patti Djalal, menyarankan pemerintah mengurangi intensitas keterlibatan Presiden Prabowo terhadap Donald Trump demi kepentingan nasional.

Sulut24.com, NASIONAL - Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, mendesak pemerintah Indonesia mengurangi intensitas keterlibatan Presiden Prabowo Subianto terhadap Presiden Donald Trump. Ia menilai pendekatan yang terlalu intensif berisiko merugikan posisi Indonesia di panggung diplomatik internasional.

Dino: Prabowo Dinilai Terlalu Semangat Mengejar Trump

Dino Patti Djalal menilai ada kesan kuat bahwa Presiden Prabowo terlalu agresif dalam mengejar hubungan personal dengan Trump. Upaya itu, menurutnya, tidak membuahkan hasil yang setara.

"Ada kesan kuat Presiden Prabowo terlalu semangat untuk mengejar Presiden Donald Trump, ini sebenarnya sah-sah saja karena kita banyak kepentingan dengan Amerika Serikat, tetapi sayangnya terlepas dari upaya yang gigih, presiden Prabowo tetap tidak berhasil mendapatkan pertemuan bilateral dengan presiden Trump di Gedung Putih," jelasnya, dalam unggahan di media sosial Instagram pribadinya, Jumat (10/4/2026). 

Baca Juga: Harga Plastik Melonjak Hingga 100%: Efek Domino yang Mengancam Ekonomi Indonesia

Kegagalan mendapatkan pertemuan bilateral di Gedung Putih menjadi salah satu indikator bahwa pendekatan saat ini perlu dievaluasi.

Trump Disebut Pemimpin Paling Berbahaya dalam Empat Bulan Terakhir

Dino memberikan penilaian keras terhadap karakter kepemimpinan Trump. Ia menyebut rekam jejak Trump dalam empat bulan terakhir sebagai dasar evaluasi hubungan diplomatik.

"Dalam empat bulan terakhir terbukti bahwa presiden Trump sudah berubah menjadi pemimpin dunia yang paling berbahaya dan belakangan ini bahkan dianggap orang Amerika sebagai tidak waras," kata Dino. 

Ia menambahkan bahwa Trump adalah satu-satunya pemimpin dunia yang melakukan aksi pembunuhan terbuka terhadap pemimpin negara lain, dan tidak peduli hukum dan norma internasional. 

"Dia gemar sekali menggunakan kekerasan untuk mendapatkan apa yang dia mau, dia gemar merebut kekuasaan dan wilayah negara lain," lanjut Dino. 

Ketimpangan Hubungan RI–AS Tercermin dalam Perjanjian Dagang

Dino menyoroti ketidaksetaraan struktural dalam hubungan Indonesia dengan Trump secara khusus. Ia menilai pola hubungan ini sudah terlihat nyata dalam beberapa kesepakatan.

"Tidak akan ada kesetaraan dalam hubungan dengan Trump, Presiden Trump hanya akan menuntut, meledek, mendominasi, merendahkan, mengeksploitasi dan memaksakan keinginannya, baik pada sekutu maupun pada sahabatnya termasuk Indonesia," kata Dino.

Dino menyebut dua indikator konkret ketimpangan tersebut, perjanjian perdagangan Indonesia–Amerika yang dinilai banyak mengandung ketimpangan, serta kerangka Board Of Peace di mana posisi Presiden Prabowo berada di bawah Trump sesuai ketentuan piagamnya.

Pujian Trump Tak Perlu Dijadikan Kebanggaan

Dino juga mengingatkan agar pemerintah tidak terlena dengan pujian Trump kepada Prabowo. Ia menyebut pola tersebut sudah berulang kali terjadi kepada pemimpin lain.

"Pujian presiden Trump kepada Presiden Prabowo jangan membuat kita bangga, karena sebagaimana sudah sering terjadi suatu hari pujian itu akan berubah menjadi ejekan dan bahkan hinaan," ujarnya.

Saran Dino: Jaga Hubungan Operasional, Kurangi Eksposur Presiden

Dino tidak menyarankan pemutusan hubungan dengan Amerika Serikat. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih terukur dan berjenjang.

Baca Juga: Proyek KUA Belang Diduga Mangkrak, LSM Rako Siap Lapor APH

"Pemerintah perlu melakukan penyesuaian hubungan dengan Amerika Serikat di mana secara birokratis kita tetap menjaga hubungan dengan baik di tingkat operasional, tetapi kurangi eksposur Presiden Prabowo kepada Presiden Trump," tandasnya. (fn)