GERMITA Kerahkan Jemaat Perbaiki Jalan Rusak Lirung–Moronge–Salibabu
Ratusan warga dan jemaat lintas wilayah dijadwalkan turun ke jalan pada 12 Juni 2026 untuk menambal kerusakan berat ruas strategis di Pulau Salibabu yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Sulut24.com, TALAUD - Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Masehi Injili Talaud (GERMITA) mengambil langkah tak lazim dengan menggerakkan jemaat untuk memperbaiki jalan rusak berat yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kerja bakti berskala besar dijadwalkan berlangsung sepanjang ruas Lirung–Moronge–Salibabu pada Jumat, 12 Juni 2026, mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WITA.
Keputusan ini lahir dari pertemuan lintas pemangku kepentingan yang digelar pada 1 Juni 2026, dihadiri BPMS GERMITA, Staf Khusus Bupati Kepulauan Talaud, para camat se-Pulau Salibabu, koordinator wilayah, Badan Pengurus Majelis Jemaat (BPMJ), serta para pemangku adat.
Ketua Umum BPMS GERMITA, Pdt. Dr. Arnold A. Abbas, bersama Sekretaris II Pnt. Firony J. Ungkey, menuangkan hasil kesepakatan itu dalam surat bernomor 46/V.13/G. Dalam surat tersebut, kerusakan ruas jalan dinyatakan telah mencapai tahap yang membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Koordinasi teknis telah ditetapkan secara rinci. Ruas dari Kota Lirung hingga Jembatan Dingkaren akan dikerjakan oleh KP-PKB dan pemuda dari Jemaat Imanuel, Musafir, dan Bukit Karmel Lirung. Segmen dari Jembatan Dingkaren hingga Jembatan Mamareppe menjadi tanggung jawab KP-PKB dan pemuda jemaat Wilayah 16 Moronge. Adapun ruas dari Jembatan Mamareppe hingga sepanjang jalan Salibabu ditangani oleh KP-PKB dan pemuda Wilayah 10 Salibabu.
Seluruh peserta kerja bakti diwajibkan membawa peralatan sendiri cangkul, sekop, parang, linggis, hingga mesin pemotong rumput. Sebelum memulai pekerjaan, seluruh peserta akan berkumpul di kediaman Ketua Umum Sinode GERMITA di Aho, Desa Moronge, untuk doa bersama.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud melalui Dinas Pekerjaan Umum turut berkontribusi dengan menyiapkan satu unit ekskavator untuk penggalian material sirtu serta tiga unit dump truck untuk pengangkutan. Namun, pekerjaan penghamparan dan perataan material di sepanjang ruas jalan tetap mengandalkan tenaga kerja masyarakat secara manual.
Baca Juga: Warga Beo Utara Geruduk Kantor PLN, Desak Transparansi BBM dan Pertanggungjawaban Pemadaman Listrik
BPMS GERMITA juga mengimbau jemaat yang memiliki kendaraan bak terbuka untuk membantu mobilisasi tenaga dan peralatan, sementara kebutuhan konsumsi diharapkan disiapkan oleh Wanita Kristen Indonesia (WKI) masing-masing jemaat atau wilayah.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan Konven Pendeta, Vikaris, dan Keluarga se-Jemaat Petra Moronge Wilayah 16 Moronge yang dijadwalkan berlangsung pada 23–25 Juni 2026 menjadikan perbaikan jalan bukan sekadar urusan infrastruktur, tetapi juga kehormatan tuan rumah di hadapan tamu dari berbagai wilayah pelayanan.
Melalui inisiatif ini, GERMITA menegaskan posisi gereja sebagai aktor sosial yang aktif merespons kebutuhan publik ketika mekanisme negara dinilai tidak bergerak cukup cepat. (Ezra)

