Pemerintah Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Isu Cadangan Hanya 21 Hari Disebut Disalahpahami
Badan Komunikasi Pemerintah menegaskan pasokan BBM terus masuk setiap hari dari produksi domestik dan impor, sehingga kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.
Sulut24.com - Badan Komunikasi Pemerintah menegaskan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman dan memastikan pasokan energi bagi masyarakat tetap terjaga, di tengah beredarnya isu bahwa cadangan BBM Indonesia hanya cukup untuk 21 hari.
Pemerintah menjelaskan angka 21 hari yang sering disebut bukan berarti BBM akan habis setelah periode tersebut, melainkan merupakan cadangan penyangga minimum atau buffer stock yang selalu dijaga dalam sistem distribusi energi nasional.
“Perlu kami tegaskan cadangan BBM kita aman, pasokan BBM kita aman, kebutuhan harian masyarakat terhadap BBM juga tetap aman,” kata Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Hariqo Wibawa Satria, Senin (9/3).
Baca Juga: RDP Panas, Warga Tarun Ultimatum PLN ULP Melonguane: Stop Pemadaman Listrik atau Kami Aksi!
Ia menambahkan bahwa pasokan energi tidak berhenti pada angka cadangan tersebut karena distribusi minyak dan BBM berlangsung secara berkelanjutan setiap hari.
“Angka 21 hari yang sering disebut adalah cadangan penyangga minimum yang selalu tersedia. Jadi tidak benar setelah 21 hari BBM akan habis,” ujarnya.
Menurut pemerintah, pada saat cadangan digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian, pasokan minyak mentah dan BBM juga terus masuk dari berbagai sumber.
“Pasokan minyak terus masuk setiap hari baik dari produksi dalam negeri maupun dari kapal tanker yang membawa pasokan dari luar negeri,” kata Satria.
Pemerintah juga menyatakan sumber impor minyak Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan tertentu, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.
Jika terjadi gangguan pengiriman di kawasan tertentu seperti Selat Hormuz, pemerintah menyebut pasokan dapat dialihkan dari wilayah lain.
“Selain itu sumber pasokan minyak mentah tidak hanya bergantung pada satu wilayah saja. Jika terjadi gangguan pengiriman di kawasan tertentu seperti di Selat Hormuz, pasokan bisa dialihkan dari kawasan lain,” katanya.
Baca Juga: Perang Rudal vs Perang Mulut
Ia juga menjelaskan sebagian besar impor BBM Indonesia berasal dari kawasan Asia Tenggara, sehingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak secara langsung berdampak pada pasokan energi nasional.
“Sebagian besar impor BBM berasal dari kawasan Asia Tenggara sehingga jika terjadi ketegangan di Timur Tengah pasokan BBM nasional tidak langsung terdampak,” ujar Satria.
Pemerintah mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait ketersediaan energi nasional.
“Oleh karena itu jangan termakan isu yang belum jelas keberadaannya,” kata Satria.
Data pemerintah menunjukkan sistem logistik energi nasional dirancang dengan skema cadangan operasional, distribusi berkelanjutan, serta diversifikasi sumber impor untuk menjaga stabilitas pasokan BBM di dalam negeri. (fn)


