Rupiah Tertekan di Rp17.700-an, IHSG Anjlok 2,76%, Pasar Keuangan RI Guncang di Tengah Ketidakpastian Global - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Rupiah Tertekan di Rp17.700-an, IHSG Anjlok 2,76%, Pasar Keuangan RI Guncang di Tengah Ketidakpastian Global

Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)

Rupiah Tembus Rp17.773, IHSG Anjlok 2,76% Pasar Keuangan Indonesia Guncang.

Sulut24.com, EKONOMI - Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan ganda pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Nilai tukar rupiah masih bertahan di kisaran Rp17.600–Rp17.700-an per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol hampir 3 persen menjadi satu-satunya bursa yang memerah di kawasan Asia.

Kurs Dolar Masih Bertengger Tinggi

Berdasarkan data resmi Bank Indonesia per pukul 09.00 WIB, kurs jual dolar AS berada di level Rp17.773,42, sementara kurs beli tercatat di Rp17.596,58 per dolar AS.

Di pasar spot, rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.653,6 per dolar AS turun 67,7 poin atau sekitar 0,38 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Pelemahan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik tipis 0,03 persen ke level 99,090.

Secara keseluruhan, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.630 hingga Rp17.740 per dolar AS sepanjang hari, mencerminkan tekanan yang belum mereda.


Kondisi ini tak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, harga energi yang bergejolak, serta penguatan dolar AS di pasar internasional menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda.

Bank Indonesia Naikkan BI Rate 50 Bps

Sebagai respons atas tekanan tersebut, Bank Indonesia mengambil langkah agresif. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19–20 Mei 2026, bank sentral memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen jauh di atas ekspektasi konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya ke level 5 persen.


Suku bunga Deposit Facility turut naik menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6,00 persen.

Bank Indonesia menegaskan kebijakan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam target pemerintah di kisaran 2,5 persen. 

Selain menaikkan suku bunga, BI juga terus memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar NDF offshore maupun transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

IHSG Sendirian Memerah di Asia

Di pasar saham, tekanan justru semakin dalam. Pada penutupan Sesi II, IHSG ditutup melemah 174,14 poin atau turun 2,76 persen ke level 6.144,36. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.378,81 di pagi hari, namun aksi jual yang masif menyeret indeks hingga ke level terendah 6.134,99.

Total nilai transaksi tercatat Rp9,78 triliun dari 1,29 juta transaksi, dengan investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp130,88 miliar di pasar reguler.

Yang menarik, koreksi tajam IHSG ini terjadi ketika mayoritas bursa Asia justru menguat. Indeks KOSPI Korea Selatan melesat 8,43 persen, NIKKEI 225 Jepang naik 3,33 persen, TAIEX Taiwan menguat 3,37 persen, dan SENSEX India naik 0,08 persen. IHSG menjadi satu-satunya indeks yang memerah di seluruh kawasan Asia pada hari ini.

Saham-Saham Penekan Utama

Beberapa emiten menjadi pemberat terbesar indeks:

PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turun 10,18% ke Rp1.720
PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) melemah 14,66%
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 9,23% ke Rp590
PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) merosot 6,99% ke Rp173
PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) terkoreksi 6,31% ke Rp2.970

Sektor Bahan Baku (Basic Materials) mencatat penurunan terdalam sebesar 4,67 persen, disusul sektor Transportasi dan Logistik yang terkoreksi 4,22 persen, dan sektor Energi turun 2,65 persen.

Pidato Prabowo Jadi Sentimen Negatif

Salah satu pemicu panic selling yang terjadi disebut-sebut berkaitan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri telah memberikan pernyataan terkait peristiwa ini.


Tim riset Phintraco Sekuritas menyebut indikator Stochastic RSI IHSG sudah berada di area oversold dan berpotensi membentuk golden cross dalam beberapa hari ke depan. Namun, pelebaran histogram negatif MACD yang masih berlanjut membuat pergerakan indeks diperkirakan tetap bervariatif.
Analis memproyeksikan IHSG akan bergerak pada kisaran support 6.148–6.092 dan resistance 6.459–6.635 dalam waktu dekat.

Sementara untuk nilai tukar, pemerintah menargetkan rupiah berada di kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027, mencerminkan harapan adanya stabilisasi bertahap ke depannya. (fn)