Ironi Karbon Aktif RI: Bahan Baku Terbaik Dunia, tapi Cuan Terbesar Justru Dinikmati China
Video viral CTO Komunitas Bisa Ekspor ungkap China kuasai 36 persen pasar karbon aktif dunia pakai bahan baku kelapa Indonesia, sementara Mesir justru beli produk bermerek China dan India.
Sulut24.com, EKONOMI - Sebuah unggahan di TikTok milik David Alfa Sunarna, influencer yang juga menjabat Chief Technology Officer (CTO) Komunitas Bisa Ekspor, menyoroti ironi besar di balik industri karbon aktif berbahan baku kelapa Indonesia. Dalam video tersebut, ia mengungkap bahwa meski kelapa Indonesia diakui sebagai bahan baku terbaik di dunia untuk pembuatan karbon aktif, mayoritas keuntungan dari rantai pasok global komoditas ini justru mengalir ke perusahaan-perusahaan China, bukan ke produsen dalam negeri.
Bermula dari Pesan Rekan Kerja di Mesir
David menceritakan, kesadaran soal praktik ini muncul setelah ia menerima pesan langsung dari rekan kerjanya di Mesir yang mengungkap fakta di lapangan mengenai asal-usul karbon aktif yang beredar di pasar negara tersebut.
Baca Juga: Jalan Trans Sulawesi Rusak, LSM Anti Korupsi Sulut Siap Bawa Bukti ke Menteri PU
“Partner saya di Mesir DM saya, ternyata karbon aktif di sana itu dari China. Padahal China ambil karbon aktif dari Indonesia, jadi bahan bakunya dari kita, kerja kerasnya dari kita yang bakar kelapa sampai jadi karbon aktif. Tapi yang menempelkan merek, yang memasukkan ke karung jadi produk bagus dan menguasai pasar, itu China,” ungkap David dalam unggahannya.
Karbon Aktif: Penyaring Super dari Batok Kelapa
Lebih jauh, David menjelaskan bahwa karbon aktif bukan sekadar arang biasa, melainkan hasil pengolahan batok kelapa tingkat tinggi yang memiliki nilai ekonomi dan fungsi industri yang luas.
“Karbon aktif itu bukan arang biasa, ini batok kelapa yang diproses tingkat tinggi sampai jadi penyaring super, untuk menyaring air minum, menambang emas, industri gula, farmasi, sampai kosmetik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kelapa Indonesia merupakan bahan baku terbaik di dunia untuk komoditas tersebut, namun kondisi ini belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat di sentra-sentra produksi kelapa.
“Kelapa Indonesia itu bahan baku terbaik di dunia untuk membuat karbon aktif, tapi kenapa masyarakat kita masih banyak yang miskin?” ujar David.
China Kuasai 36 Persen Pasar Karbon Aktif Dunia Berkat Bahan Baku dari Indonesia
Menurut David, China saat ini menjadi pemain dominan di industri karbon aktif global meskipun negara tersebut hampir tidak memiliki perkebunan kelapa sendiri. Dominasi itu dibangun dengan mengandalkan pasokan murah dari Indonesia yang kemudian diolah ulang, diberi merek, dan dipasarkan ke seluruh dunia.
“China itu raja karbon aktif dunia, sekitar 36 persen produksi global, tapi mereka nyaris tidak punya kelapa. Jadi caranya, mereka beli arang dan karbon kelapa kita yang murah, dinaikkan kualitasnya, dikasih merek, dipak rapi, terus dijual ke seluruh dunia, termasuk ke Mesir. Bahkan sekarang China mulai beli kelapa kita secara mentah,” paparnya.
Dari Batam ke Mesir, Selisih Harga Capai Ratusan Dolar AS per Ton
David memaparkan data konkret untuk menggambarkan skala persoalan ini. Salah satu contohnya datang dari Batam, yang menjadi salah satu pintu ekspor arang batok kelapa ke China dengan volume dan nilai yang signifikan.
“Dari Batam saja, 36 ribu ton per tahun arang batok kelapa dikirim ke China, nilainya Rp200 miliar. Karbon aktif kita diekspor rata-rata sekitar 1.500 dolar AS per ton, padahal di pasar dunia harganya bisa 2.500 dolar AS lebih. Selisihnya diambil yang menempelkan merek, perusahaan China,” terangnya.
Ironisnya, di pasar Mesir sendiri, produk yang beredar dan dikenal konsumen justru merek-merek asal China dan India, meskipun bahan bakunya dapat dipastikan berasal dari kelapa Indonesia.
“Bahkan di Mesir, yang beredar di pasar itu merek China dan India, padahal bahannya jelas dari kelapa kita,” kata David.
Solusi: Indonesia Harus Berhenti Jadi 'Tukang Stor' Bahan Baku
David menawarkan solusi agar Indonesia tidak terus berada di posisi sebagai pemasok bahan mentah. Menurutnya, peluang untuk masuk langsung ke pasar seperti Mesir sebenarnya sudah terbuka, asalkan pelaku usaha dalam negeri mau naik kelas dari sisi kualitas produk, kelembagaan usaha, hingga strategi pemasaran.
“Kita bisa jualan langsung dengan perusahaan yang proper, pakai branding, dipak rapi, agar produsen Indonesia bisa merebut pasar Mesir secara langsung. Pintunya sudah terbuka, yang kurang selama ini SDM kita untuk naik kelas. Kita harus bikin merek sendiri, website sendiri, mengurus sertifikasi, jaga kualitas konsisten, lalu jual langsung ke buyer, bukan cuma jadi pemasok bahan baku buat China,” tegasnya.
David menutup unggahannya dengan pernyataan yang menjadi inti kritiknya terhadap pola dagang komoditas Indonesia selama ini.
Baca Juga: 6 Mesin Beroperasi, Tapi Listrik Masih Padam, Ada Apa dengan Sistem Pembangkit PLN Melonguane?
“Selama kita cuma jual bahan mentah atau produk setengah jadi, kita akan terus jadi tukang stor buat negara yang menjual ke pelanggannya sendiri,” pungkasnya.
Unggahan David Alfa Sunarna ini menuai perhatian publik di media sosial dan memicu diskusi mengenai hilirisasi produk kelapa nasional. (fn)

